Kabar Gembira Buat kamu yang ga sengaja kunjungi Blog ini !!!
jarang-jarang kamu bisa nemuin Harga SOUVENIR se Murahini..
karena ini kami buat sengaja buat kamu yang ga sengaja berkunjung ke Blog kami dengan ulasan kami selain dari ulasan souvenir ☺️☺️☺️☺️
Nah buat kamu yang tertarik dengan Harga-harga souvenir kami, bisa langsung hubungi whatsapp kami di 081296650889 atau 081382658900
caranya screenshoot atau sertakan link url souvenir yang kamu minati pada blog ini, kirimkan kepada kami di nomer yang sudah tertera dia atas↑↑
tanpa screenshoot atau link blog kami, kemungkinan kami akan memberikan harga jual yang ada pada toko kami yang cenderung lebih tinggi tentunya
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Minggu, 30 November 2014
Deskripsi Sejarah Islam di Indonesia – Sahabat sekalian, pada kesempatan kali ini akan menyebarkan artikel mengenai Sejarah Islam di Indonesia. Indonesia ketika ini kita kenal sebagai Negara dengan pemeluk Agama Islam terbesar di dunia. So niscaya kita akan bertanya-tanya gimana sih Sejarah masuknya islam ke Indonesia ? , nah berikut ini deskripsi sederhana yang dirangkum dari banyak sekali sumber mengenai sejarah islam di Indonesia.
Pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum usang berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, periode demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.
Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, tempat paling barat dari Kepulauan Nusantara, yakni yang pertama sekali mendapatkan agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada ketika persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula informasi dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi’i. Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya yakni makam seorang Muslimah berjulukan Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.
Sampai dengan periode ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada periode ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah beropini bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada periode tersebut disebabkan ketika itu kaum Muslimin sudah mempunyai kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam menyerupai Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada periode ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan imbas kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara menyerupai Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam menyampaikan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk menyerupai halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam tiba ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil’alamin.
Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di banyak sekali tempat kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari sentra dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya yakni berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut. Namun sehabis bangsa-bangsa Eropa Kristen berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi tempat di Nusantara, korelasi dengan sentra dunia Islam seakan terputus. Terutama di periode ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain lantaran kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga lantaran banyak sekali peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis. Setiap kali para penjajah – terutama Belanda – menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka niscaya menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berafiliasi dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah korelasi ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.
Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada final periode ke-15 Masehi ke kepulauan subur makmur ini, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama seteru mereka, sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk tetapkan jalur pelayaran kaum Muslimin, maka sehabis menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa. Namun maksud Portugis ini gagal total sehabis pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa pundak membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih populer dengan gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten, Fathahillah sempat mencar ilmu di Makkah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari serbuan Turki Utsmani.
Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di sisi lain menciptakan pendalaman kepercayaan Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas pada mazhab Syafi’i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran kepercayaan dengan tradisi pra Islam. Kalangan priyayi yang bersahabat dengan Belanda malah sudah terjangkiti gaya hidup Eropa. Kondisi menyerupai ini setidaknya masih terjadi sampai sekarang. Terlepas dari hal ini, ulama-ulama Nusantara yakni orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Meskipun banyak diantara mereka yang berasal dari kalangan tarekat, namun justru kalangan tarekat inilah yang sering bangun melawan penjajah. Dan meski pada balasannya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan seni administrasi licik, namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada Nusantara yang gugur pada banyak sekali pertempuran melawan Belanda. Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan Islam di periode 16 dan 17 menyerupai Malaka (Malaysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, sampai perlawanan para ulama di periode 18 menyerupai Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar).
Demikianlah artikel memgenai deskripsi sederhana perihal sejarah Islam di Indonesia, agar artikel ini sanggup memperlihatkan informasi yang bermanfaat bagi kita semua.[ki]
Kamis, 27 November 2014
By syahna aksesoris / Posted on 18.31 / Categories: sejarah, soal sejarah
Soal Semester Ganjil Sejarah Peminatan Tahun 2014 - 2015
Bab I Menelusuri Peradaban Awal di Kepulauan Indonesia
- Mengapa istilah praaksara lebih sempurna dibandingkan dengan istilah prasejarah untuk menggambarkan kehidupan insan sebelum mengenal tulisan.
- Bagaimana secara metodologis kita sanggup mengetahui kehidupan insan sebelum mengenal tulisan.
- Mesir mengakhiri zaman praaksara sekitar tahun 3000 SM, tetapi di Indonesia gres kurun ke-4 hingga ke-5 M. Mengapa demikian?
- Apa saja pelajaran yang sanggup kita peroleh dari berguru kehidupan pada zaman praaksara?
- Kita wajib bersyukur alasannya ialah Tuhan Yang Maha Pencipta yang telah membuat bumi kita ini dengan cerdik dan bijaksana serta penuh kasih sayang kepada makhluk ciptaan-Nya. Coba beri penjelasan, kau sanggup berdiskusi dengan anggota kelompokmu!
- Menurut kau nilai-nilai apa yang sanggup dipetik dari proses terbentuknya pulau-pulau di Kepulauan Indonesia?
- Hikmah apa yang sanggup kita peroleh dengan bertempat tinggal di wilayah yang sering terjadi tragedi alam?
- Di setiap kawasan tentu ada kisah rakyat ataupun dongeng yang berkaitan dengan gempa bumi maupun gunung meletus, coba kau cari dan tuliskan dalam bentuk kisah 3 – 4 halaman, lalu diskusikan.
- Sebutkan gunung api yang pernah meletus di daerahmu dan di Indonesia!
- Sebutkan petaka (tektonik) yang pernah terjadi di daerahmu dan di Indonesia
- Mengapa para mahir melaksanakan penelitian insan purba banyak di bantaran sungai?
- Jelaskan ciri dan mengapa hasil penelitian Dubois di Trinil disebut sebagai jenis Pithecanthropus erectus (kera yang berjalan tegak)?
- Menurut pendapat kamu, bagaimana insan purba sanggup menyebar ke dalam wilayah Kepulauan Indonesia bahkan hingga ke luar wilayah Kepulauan Indonesia?
- Coba buatlah karya ilmiah (2–3 halaman) dengan tajuk, Sangiran Laboratorium Manusia Purba.
- Coba kau inventarisir aneka macam situs dan tinggalan insan purba di daerahmu masing-masing.
- Coba kau diskusikan mengapa insan purba membuat peralatan dari bebatuan, kayu, dan tulang?
- Peralatan yang dibentuk oleh insan purba dari watu sanggup dipakai sebagai alat serba guna, coba jelaskan dan beri contoh.
- Mengapa insan purba itu banyak yang tinggal di tepi sungai?
- Jelaskan pola kehidupan nomaden insan purba!
- Manusia purba juga memasuki fase bertempat tinggal sementara, contohnya di gua mengapa demikian?
- Apa kira-kira alasan bagi insan purba menentukan tinggal di tepi pantai!
- Pembukaan lahan yang dilakukan oleh nenek moyang kita dengan penebangan pohon bergotong-royong termasuk kearifan lokal yang perlu dijadikan pelajaran. Bagaimana pendapat dan perilaku kau ihwal pernyataan tersebut? Bagaimana pula pendapat kau ihwal acara pembukaan lahan dengan aben hutan ibarat yang dilakukan kini sekarang ini
- Buatlah analisis ihwal hubungan antara pola tempat tinggal dengan bercocok tanam.
- Adalah Buatlah karya tulis dengan judul, “Neolitikum: Sebuah Revolusi Kebudayaan.”
- Coba kau identifikasi alat-alat bercocok tanam pada periode ini
- Jelaskan kaitan antara insan yang sudah bertempat tinggal tetap dengan adanya sistem kepercayaan!
- Adakah hubungan antara sistem kepercayaan masyarakat dengan pola mata pencaharian? Jelaskan!
- Buatlah sebuah proyek berguru dengan melaksanakan penelitian ihwal tradisi megalitik dan kepercayaan animisme yang kini masih tersisa di kawasan kamu.
- Identifikasi permasalahan yang berdasarkan kau menarik untuk diteliti, yaitu merumuskan duduk kasus apa yang akan kau teliti (biasanya dalam bentuk kalimat pertanyaan), ibarat di manakah insan praaksara biasanya tinggal? Pada masa kapan mereka hidup di Indonesia? Bagaimana mereka sanggup mempertahankan kehidupannya dan bagaimana ciri-cirinya? Dan lain-lain sebagainya sanggup diskusikan dengan teman-temanmu.
- Setelah itu carilah sumber-sumber yang menjelaskan ihwal permasalahan yang akan diteliti. Caranya dengan mencari sumber dari internet, buku-buku bacaan, kliping koran, fotofoto, ilustrasi dan sanggup juga wawancara dengan tokoh masyarakat yang kau anggap mengetahui permasalahan.
- Setelah kau temukan sumber-sumber tersebut, kau harus melaksanakan perbandingan antara sumber yang satu dengan yang lain untuk mencari kebenaran. Jika dari bacaan yang kau baca ada dua atau lebih sumber yang menyatakan hal yang sama maka sanggup saja kita anggap sumber tersebut mendekati kebenaran.
- Apabila di kawasan tempat tinggal kau terdapat peninggalan sejarah yang diduga tinggalan masa praaksara, kau bersama teman-temanmu sanggup mengunjungi situs tersebut untuk meyakinkan pendapat kamu. Setelah itu barulah kau rumuskan dalam bentuk goresan pena yang runtut sekitar 3 – 5 lembar tulisan.[ki]
Jumat, 17 Oktober 2014
By syahna aksesoris / Posted on 08.51 / Categories: sejarah
Masuknya dampak Hindu-Buddha di Indonesia Agama dan kebudayaan Hindu-Buddha berkembang di Indonesia. Satu bukti yaitu ditemukannya arca Buddha terbuat dari perunggu di kawasan Sempaga, Sulawesi Selatan. Menurut ciri-cirinya, arca Sempaga menunjukkan langgam seni arca Amarawati dari India Selatan. Arca sejenis juga ditemukan di kawasan Jember, Jawa Timur dan kawasan Bukit Siguntang Sumatra Selatan. Di kawasan Kota Bangun Kutai, Kalimantan Timur, juga ditemukan arca Buddha. Arca Buddha itu menunjukkan ciri seni area dari India Utara. Kalau begitu kapan agama dan kebudayaan Hindu-Buddha dari India itu masuk ke Kepulauan Indonesia?
Proses masuknya Hindu-Buddha atau sering disebut Hindunisasi di Kepulauan Indonesia ini masih ada banyak sekali pendapat. Sampai ketika ini masih ada perbedaan pendapat mengenai cara dan jalur proses masuk dan berkembangnya dampak Hindu-Buddha di Kepulauan Indonesia. Beberapa pendapat (teori) tersebut dijelaskan pada uraian berikut.
Pertama, sering disebut dengan teori kesatria. Dalam kaitan ini R.C. Majundar berpendapat, bahwa munculnya kerajaan atau dampak Hindu di Kepulauan Indonesia disebabkan oleh peranan kaum kesatria atau para prajurit India. Para prajurit diduga melarikan diri dari India dan mendirikan kerajaan-kerajaan di Kepulauan Indonesia dan Asia Tenggara pada umumnya. Namun, teori Kesatria yang dikemukakan oleh R.C. Majundar ini kurang disertai dengan bukti-bukti yang mendukung. Selama ini belum ada hebat akelog yang sanggup menemukan bukti-bukti yang menyampaikan adanya perluasan dari prajurit-prajurit India ke Kepulauan Indonesia. Kekuatan teori ini terletak pada semangat untuk petualangan para kaum kesatria.
Kedua, teori Waisya. Teori ini terkait dengan pendapat N.J. Krom yang menyampaikan bahwa kelompok yang berperan dalam dalam penyebaran Hindu-Buddha di Asia Tenggara, termasuk Indonesia yaitu kaum pedagang. Pada mulanya para pedagang India berlayar untuk berdagang. Pada ketika itu jalur perdagangan melalui lautan yang tergantung dengan adanya animo angin yang menyebabkan mereka tergantung pada kondisi alam. Bila animo angin tidak memungkinkan maka mereka akan menetap lebih usang untuk menunggu animo baik. Para pedagang India pun melaksanakan perkawinan dengan penduduk pribumi dan melalui perkawinan tersebut mereka mengembangkan kebudayaan India. Menurut G. Coedes, yang memotivasi para pedagang India untuk tiba ke Asia Tenggara yaitu impian untuk memperoleh barang tambang terutama emas dan hasil hutan.
Ketiga, teori Brahmana. Teori sesuai dengan pendapat J.C. van Leur bahwa Hinduninasi di Indonesia disebabkan oleh peranan kaum Brahmana. Pendapat van Leur didasarkan atas temuantemuan prasati yang memakai bahasa Sanskerta dan aksara pallawa. Bahasa dan aksara tersebut hanya dikuasai oleh kaum Brahmana. Selain itu, adanya kepentingan dari para penguasa untuk mengundang para Brahmana India. Mereka diundang ke Asia Tenggara untuk keperluan upacara keagamaan. Seperti pelaksanaan upacara inisiasi yang dilakukan oleh para kepala suku biar mereka menjadi golongan kesatria. Pandangan ini sejalan dengan pendapat yang dikemukan oleh Paul Wheatly bahwa para penguasa lokal di Asia Tenggara sangat berkepentingan dengan kebudayaan India guna mengangkat status sosial mereka.
Keempat, teori yang dinamakan teori Arus Balik. Teori ini lebih menekankan pada peranan bangsa Indonesia sendiri dalam proses penyebaran kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia. Artinya, orang-orang di Kepulauan Indonesia terutama para tokoh-tokohnya yang pergi ke india. Di India mereka mencar ilmu hal wacana agama dan kebudayaan Hindu-Buddha. Setelah kembali ke Kepulauan Indonesia mereka mengajarkan dan berbagi anutan agama itu kepada masyarakatnya. Pandangan ini sanggup dikaitkan dengan pandangan F.D.K. Bosch yang menyatakan bahwa proses Indianisasi di Kepulauan Indonesia dilakukan oleh kelompok tertentu, mereka itu terdiri atas kaum pandai yang memiliki semangat untuk berbagi Buddha. Kedatangan mereka disambut baik oleh tokoh masyarakat. Selanjutnya lantaran tertarik dengan anutan Hindu- Buddha mereka pergi ke India untuk memperdalam anutan itu. Lebih lanjut Bosch mengemukakan bahwa proses Indianisasi yaitu suatu dampak yang berpengaruh terhadap kebudayaan lokal.
Berdasarkan teori-teori yang dikemukan di atas sanggup ditarik suatu kesimpulan bahwa masyarakat di Kepulauan Indonesia telah mencapai tingkatan tertentu sebelum munculnya kerajaan yang bersifat Hindu-Buddha. Melalui proses akulturisasi, budaya yang dianggap sesuai dengan karateristik masyarakat pada ketika itu diterima dengan menyesuaikan pada budaya masyarakat setempat ketika itu.
Nah, bagaimana selanjutnya dengan persebaran agamaagama itu? Beberapa bukti-bukti arkeologis menyampaikan perkembangan masuknya agama Hindu-Buddha di Kepulauan Indonesia. Pengaruh Hindu ditemukan berasal pada masa ke-4 - ke-5 Masehi. Prasasti yang ditemukan di Kutai dan Tarumanagara yang menyebutkan sapi sebagai binatang persembahan menyampaikan bahwa agama Hindu berkembang di kawasan itu. Juga adanya penyebutan Dewa Trimurti yaitu, Brahma, Wisnu, dan Siwa.[ki]
Selasa, 30 September 2014
By syahna aksesoris / Posted on 09.53 / Categories: sejarah
Sarekat Islam Pada mulanya SI lahir sebab adanya dorongan dari R.M. Tirtoadisuryo seorang bangsawan, wartawan, dan pedagang dari Solo. Tahun 1909, ia mendirikan perkumpulan dagang yang berjulukan Sarekat Dagang Islam (SDI). Perkumpulan itu bertujuan untuk memperlihatkan dukungan pada para pedagang pribumi biar sanggup bersaing dengan pedagang Cina. Saat itu perdagangan batik mulai dari materi baku dikuasai oleh pedagang Cina, sehingga pedagang batik pribumi semakin terdesak. Kegelisahan Tirtoadisuryo itu diutarakan pada H. Samanhudi.
Atas dorongan itu H. Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam di Solo (1911). Pada mulanya SI bertujuan untuk kesejahteraan sosial dan persamaan sosial. Mula-mula SI merupakan gerakan sosial ekonomi tanpa menghiraukan problem kolonialisme. Jelaslah bahwa tujuan utama SDI yakni melindungi aktivitas ekonomi pedagang Islam biar sanggup terus bersaing dengan pengusaha Cina. Agama Islam dipakai sebagai faktor pengikat dan penyatu kekuatan pedagang Islam yang dikala itu juga menerima tekanan dan kurang diperhatikan dari pemerintah kolonial. Sebagai perkumpulan dagang SDI lalu berpindah ke Surabaya yang merupakan kota dagang di Indonesia. SDI selanjutnya dipimpin oleh Haji Umar Said Cokroaminoto. Cokroaminoto dikenal sebagai seorang orator yang cakap dan bijak, kemampuannya berorator itu memikat anggota-anggotanya. Di bawah kepemimpinannya diletakkan dasar-dasar gres yang bertujuan untuk memajukan semangat dagang bangsa Indonesia.
Disamping itu SDI juga memajukan rakyat dengan menjalankan hidup sesuaicajarana agama dan menghilangkan paham yang keliru perihal agama Islam. SDI lalu berubah nama menjadi Sarekat Islam (SI) pada tahun 1913. Pada kongres SI yang pertama, tanggal 26 Januari 1913, dalam pidatonya di Kebun Bintang Surabaya, ia menegaskan bahwa tujuan SI yakni menghidupkan jiwa dagang bangsa Indonesia, memperkuat ekonomi pribumi biar bisa bersaing dengan bangsa asing. Usaha di bidang ekonomi itu nampak sekali dengan didirikannya koperasi di Kota Surabaya. Di Surabaya pula bangun PT. Setia Usaha, yang bergerak tidak saja menerbitkan surat kabar “Utusan Hindia”, juga bergerak di bidang penggilingan padi dan perbankan. Usaha itu dimaksudkan untuk membebaskan kehidupan ekonomi dari ketergantungan bangsa asing.
Dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, SI sudah memiliki cabang di aneka macam kota. Organisasi itu tumbuh menjadi besar. Kemajuan yang dicapai oleh SI itu dianggap bahaya bagi pemerintah kolonial. Pemerintah lalu mengeluarkan peraturan untuk menghambat laju pertumbuhan SI, yaitu cabang harus bangun sendiri dan terbatas daerahnya. Pemerintah kolonial tidak keberatan SI tempat mengadakan perwakilan yang diurus oleh pengurus sentral. Kemudian dibentuklah Central Sarikat Islam (CSI) yang mengorganisasikan 50 cabang kantor SI daerah.
Ketika pemerintah kolonial mengijinkan berdirinya partai politik, SI yang semula merupakan organisasi nonpolitik bermetamorfosis partai politik. SI mengirimkan wakilnya dalam Volksraad (Dewan Rakyat) dan memegang tugas penting dalam Radicale Concentratie, yaitu adonan perkumpulan yang bersifat radikal. Pemerintah kolonial yang dianggap cenderung kearah kapitalisme mulai ditentang. SI juga aktif mengorganisasi perkumpulan buruh. Dalam suatu pembukaan rapat Volksraad masih terekam dalam ingatan bersama kaum terpelajar bumiputera perihal Janji November (November Beloofte). Dalam pidatonya itu Gubernur Jenderal Hindia Belanda menyampaikan bahwa dalam zaman gres kekerabatan pemerintah colonial dan proses demokratisasi dimulai. Ia juga mengatakan, kalau saatnya kelak Volksraad menjadi dewan rakyat, sebuah forum bagi rakyat Hindia untuk memberikan hasrat untuk merdeka. Namun Volksraad tidak pernah menjadi tubuh rakyat Hindia, Volksraad tetap menjadi alat bagi pemerintah kolonial. Karena kecilnya capaian yang diraih oleh dewan rakyat tersebut, mendorong Cokroaminoto dan Agus Salim untuk mengubah aliran politik SI dari kooperatif ke nonkooperatif dan menolak ikut serta dalam setiap dewan rakyat yang didirikan pemerintah.
Dalam kongres SI tahun 1914, yang diselenggarakan di Yogyakarta Cokroaminoto dipilih sebagai pimpinan SI. Gejala konflik internal mulai kelihatan dan kewibawaan CSI mulai berkurang. Dalam kondisi itu Cokroaminoto tetap mempertahankan keutuhan dengan menyampaikan kecenderungan untuk memisahkan diri dari CSI harus dikutuk. Karena itu perpecahan harus dihindari, persatuan, harus dijaga sebab Islam sebagai unsur penyatu. Dalam kongres tahunan yang diselenggrakan SI pada tahun 1916, Cokroaminoto memberikan dalam pidatonya perlunya pemerintahan sendiri untuk rakyat Indonesia. Pada tahun itu kongres pertama SI yang dihadiri oleh 80 anggota SI lokal dengan anggotanya sebanyak 36.000 orang. Kongres itu merupakan Kongres Nasional sebab SI memiliki keinginan supaya penduduk Indonesia menjadi satu nation atau suku bangsa, dengan kata lain mempersatukan etnis Indonesia menjadi bangsa Indonesia. Cokroaminoto dikenal sebagai seorang politikus dan orator yang cerdas. Seorang cowok yang tinggal indekost di rumahnya tertarik dengan cara berpidatonya. Setiap hari cowok itu sering mengikuti diskusi-diskusi yang diadakan di rumah Cokroaminoto. Dia juga menggandakan cara Cokro berpidato dengan berlatih pidato di balkon rumah Cokro. Kelak cowok itu kita kenal sebagai seorang orator yang cerdas dan menjadi presiden pertama Indonesia, Sukarno.
Sebelum kongres tahunan berikutnya (1917) di Jakarta, muncul aliran revolusioner sosialis ditubuh SI, yang berasal dari SI Semarang yang dipimpin oleh Semaun. Kongres tetap berjalan dan menetapkan bahwa azas usaha SI yakni pemerintahan bangun sendiri dan usaha melawan penjajahan dari kolonialisme. Sejak itu Cokroamitono dan Abdul Muis mewakili SI dalam Dewan Rakyat. SI semakin menerima simpati dari rakyat. Keanggotaannya pun semakin meningkat. Sementara itu efek Semaun semakin menjalar ke tubuh SI. Sejak itulah efek sosial-komunis masuk ke dalam tubuh SI pusat maupun cabang-cabangnya. Sebagai organisasi besar SI telah disusupi oleh orang-orang yang menjadi anggota Indische Sociaal Democratische Vereninging (ISDV), menyerupai Semaun dan Darsono. Pada kongres SI kelima tahun 1921, Semaun melancarkan kritik terhadap kebijakan SI Pusat sehingga timbul perpecahan. Di satu pihak aliran yang diinginkan SI yakni ekonomi dogmatis yang diwakili oleh Semaun, yang lalu dikenal dengan SI Merah beraliran komunis. Di sisi lain, SI menginginkan aliran nasional keagamaan yang diwakili oleh Cokroaminoto, yang lalu dikenal dengan SI Putih. Rupanya tanda-tanda usaha dua aliran itu tidak sanggup dipersatukan. Agus Salim dan Abdul Muis mendesak biar ditetapkan disiplin partai yang melarang keanggotaan rangkap. Usulan itu sangat mengkhawatirkan Partai Komunis Indonesia (PKI). Oleh sebab itu, Tan Malaka meminta displin partai diadakan perkecualian bagi PKI. Namun demikian, disiplin partai sanggup diterima oleh kongres dengan bunyi mayoritas. Konsekuensi dari itu Semaun dikeluarkan dari SI, sebab dilarang rangkap anggota. Dengan demikian, langkah pertama dari efek PKI ke dalam tubuh SI telah sanggup diatasi.
Sementara itu dalam kongres di Madiun 1923, Central Sarekat Islam (CSI) diganti menjadi Partai Sarekat Islam (PSI), dan memberlakukan disiplin partai. Di lain pihak, SI yang menerima efek PKI menyatakan diri bernaung dalam Sarekat Rakyat yang merupakan bentukan PKI. Azas usaha PSI yakni nonkooperasi artinya oraganisasi itu tidak mau berafiliasi dengan pemerintah kolonial. Namun organisasi itu mengijinkan anggotanya duduk di dalam Dewan Rakyat atas nama pribadi. Kongres PSI tahun 1927 menegaskan azas usaha organisasi itu yakni mencapai kemerdekaan nasional menurut agama Islam. Karena PSI menggabungkan diri dalam Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI), nama PSI ditambah dengan Indonesia untuk memperlihatkan usaha kebangsaan. Selanjutnya organisasi itu berjulukan Partai Sarikat Islam Indonesia (1927). Maka muncullah efek positif bagi perkembangan nasionalisme PSI. Perubahan nama itu berkaitan dengan kehadiran Sukiman yang gres tiba dari Belanda. Dalam konggres Pemuda tahun 1928, PSII aktif mengambil pecahan dalam PPPKI. Banyaknya anggota muda dalam PSII membawa perbedaan paham antara golongan muda dengan golongan tua. Pada 1932, timbulah perpecahan dalam tubuh organisasi itu. Muncullah Partai Islam Indonesia (PARII) dibawah Dr. Sukiman yang berpusat di Yogyakarta. Agus Salim dan A.M. Sangaji mendirikan Barisan Penyedar yang berusaha menyadarkan diri sesuai dengan tuntutan zaman. Persatuan dalam PSII tak sanggup dipertahankan lagi, Sukiman lalu memisahkan diri yang diikuti oleh Wiwoho, Kasman Singodimedjo dll. Pada tahun 1940, Sekar Maji Kartosiwiryo mendirikan PSII tandingan terhadap PSII yang dipimpin Abikusno Cokrosuyoso. Akibat perpecahan itu PSII mengalami kemunduran. Peranannya sebagai Partai Islam lalu dilanjutkan oleh Partai Islam Indonesia yang merupakan lanjutan dari PARII di bawah pimpinan Dr. Sukiman.[ki]
Senin, 29 September 2014
By syahna aksesoris / Posted on 09.46 / Categories: sejarah
Gerakan Pemuda Masa Pergerakan Nasional Munculnya elit gres di kalangan kaum muda terpelajar, memunculkan pahaman gres di kalangan mereka. Kalangan elit gres itu lebih cenderung menentukan pekerjaan sebagai guru, penerjemah, dokter, pengacara, dan wartawan. Munculnya elit gres itu memunculkan pemahaman kebangsaan. Tujuh tahun sehabis didirikannya Budi Utomo, perjaka Indonesia mulai bangun meskipun dalam loyalitas kepulauan. Perubahan pesat dan radikal dari organisasi-organisasi perjaka dikala itu semakin meluas untuk mencapai impian persatuan. Maka pada 30 April – 2 Mei 1926, diadakannya rapat besar perjaka di Jakarta, yang kemudian dikenal dengan Kongres Pemuda Pertama. Kongres itu diketuai oleh M. Tabrani. Tujuan kongres itu ialah untuk mencapai perkumpulan perjaka yang tunggal, yaitu membentuk suatu tubuh sentral dengan maksud memajukan paham persatuan kebangsaan dan mempererat korelasi antara semua perkumpulan-perkumpulan perjaka kebangsaan.
Gagasan-gagasan persatuan dibicarakan dalam kongres itu. Soemarto misalnya, tampil sebagai pembicara dengan topik “Gagasan Persatuan Indonesia”. Bahder Djohan tampil dengan topik “Kedudukan Wanita dalam Masyarakat Indonesia”. Nona Adam yang memberikan gagasannya perihal “Kedudukan Kaum Wanita”. Djaksodipoero berbicara perihal “Rapak Lumuh”. Paul Pinontoan berbicara perihal “Tugas Agama di dalam Pergerakan Nasional”. Muhammad Yamin berbicara perihal “Kemungkinan Perkembangan Bahasa-Bahasa dan Kesusasteraan Indonesia di Masa Mendatang”. Gagasan yang disampaikan oleh Yamin dalam kongres itu merupakan pengulangan dari pidatonya yang disampaikan dalam Lustrum I Jong Sumatranen Bond. Saat itu pidato Yamin menerima komentar dari Prof. Dr. Hooykes, bahwa kelak Yamin menjadi pencetus bagi usaha penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar dan pergaulan di Indonesia, dan bahasa Belanda akan terdesak oleh karenanya.
Keputusan fundamental dari Kongres Pemuda I ialah kongres mengakui dan mendapatkan impian persatuan Indonesia. meskipun belum dinyatakan dengan jelas. Sebagai tindaklanjut dari kongres itu Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa, Jong Celebes, Jong Batas, Sekar Rukun, Vereeniging voor Ambonsche Studeerenden dan Komite Kongres Pemuda I mengadakan pertemuan, pada 15 Agustus 1926. Pertemuan itu belum membawa hasil yang berarti. Kemudian dibentuklah anggaran organisasi gres yang berjulukan Jong Indonesia (Pemuda Indonesia). organisasi gres itu bertujuan untuk menanamkan impian persatuan Indonesia.
Sementara itu untuk menghapus penjajahan yang merugikan rakyat Indonesia dibentuklah Perhimpunan Pelajar Pelajar di Indonesia (PPPI) di Jakarta, September 1926. PPPI bertujuan untuk memperjuangkan Indonesia merdeka. Cita-cita hanya sanggup tercapai jikalau paham kedaerahan dihilangkan dan perselisihan pendapat diantara kaum nasionalis harus dihapuskan. Aktivitas PPPI mencakup gerakan pemuda, sosial, dan politik. Ketua perkumpulan itu Soegondo Djojopoepito, tokoh-tokoh lainnya ialah Muh. Yamin, Abdullah Sigit, Suwiryo, Sumitro Reksodiputro, A.K. Gani, Tamzil, Sunarko, Amir Syarifuddin, dan Sumanang. Perhimpunan itu sering berkumpul di Indonesische Clubgebouw yang terletak di Jl. Kramat No 106, Weltevreden. Mereka memiliki korelasi antaranggota yang sangat akrab dan tidak formal.
Pada 20 Februari 1927, pertemuan dilanjutkan, dalam pertemuan itu membahas perihal fusi antarorganisasi pemuda, akan tetapi kesudahannya belum maksimal. Persoalan kedaerahan masih muncul pada dikala itu. Pada tahun itu pula Jong Java mulai kehilangan tugas dominannya dalam gerakan pemuda. Peran itu kemudian diambil alih oleh PPPI dan Jong Indonesia. Perjuangan perjaka dari tahun 1926-1928 berjalan dengan cepat. Baik dari kalangan muda maupun kalangan bau tanah memandang bahwa sudah waktunya untuk bersatu. Bahkan untuk merapatkan barisan di tanah Hindia, para pelajar yang terhimpun dalam Perhimpunan Indonesia kembali ke tanah air. Diantara mereka ialah Sartono, Moh. Nazif, dan Mononutu. Selama dua tahun itulah para perjaka mengadakan pertemuan secara intensif di Indonesische Clubgebouw.
Untuk mempersiapkan rapat tersebut, PPPI mengambil langkah untuk membentuk panitia rapat perjaka dengan program mengadakan rapat-rapat terbuka yang diisi dengan ceramah yang menganjurkan dan menguatkan perasaan persatuan. Pada Juni 1928, panitia kongres dibentuk. Ketua kongres dipilih Soegoendo Djojopoespito dari PPPI, Wakil Ketua Djoko Marsaid dari Jong Java, dan Sekretaris Muh. Yamin dari Sumatranen Bond. Pada 28 Oktober 1928, Kongres Pemuda II dilaksanakan di gedung Indonesische Clubgebouw. Saat itu kongres dihadir sekitar 1000 orang. Dalam kesempatan itu Muh. Yamin memberikan pidatonya dengan judul “Dari Hal Persatoean dan Kebangsaan Indonesia”. Pada hari kedua kongres dibicarakan perihal masalah-masalah pendidikan, pembicara dikala itu antara lain Ki Hadjar Dewantara, S. Mangoensarkoro, Djokosarwono, Ramelan, Mr. Soenario, dan Poernomowoelan.
Dalam rapat-rapat di PPPI, Yamin selalu menentang ide fusi dari perkumpulan yang ada. Sebagai perjaka Sumatera Yamin berkeinginan untuk menentukan federasi dari perkumpulan-perkumpulan yang ada. Keinginannya itu lebih cenderung supaya perkumpulan lebih bebas bergerak. Namun dikala Kongres Pemuda berlangsung, Yamin berubah pikiran, ketika itu Mr. Soenario sedang berpidato. Sebagai sekretaris, ia memberi resolusi dalam rapat itu, yaitu menjunjung tinggi persatuan dan perkumpulan perjaka yang ada. Adapun isi putusan tersebut adalah:
..........Kerapatan laloe mengambil kepoetoesan :
- Pertama: Kami Poetera dan Poeteri Indonesia mengakoe bertoempaah darah yang satoe, tanah Indonesia;
- Kedoea: Kami Poetera dan Poeteri Indonesia mengakoe berbangsa yang satoe bangsa Indonesia;
- Ketiga: Kami Poetera dan Poeteri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
Keputusan pemuda-pemudi itu kemudian dikenal dengan Sumpah Pemuda, pada dikala itu pula dikumandangkannya lagu Indonesia Raya ciptaan Wage Rudolf Supratman dan bendera Merah Putih dipakai sebagai bendera Pusaka Bangsa Indonesia Peristiwa Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928 itu merupakan puncak pergerakan nasional. Karena itulah kita memperingatinya sebagai tragedi bersejarah yang diperingati setiap tahun hingga dikala ini sebagai hari besar nasional. Putusan kongres itu menjiwa setiap perkumpulan perjaka di Indonesia di kemudian hari. Selanjutnya organisasi-organisasi perjaka itu mengadakan persiapan-persiapan untuk mengadakan fusi. Jong Java sebagai organisasi terbesar dan tertua waktu itu, menyetujui ide fusi itu dalam Kongres ke-11, tanggal 25-29 Desember 1928 di Yogyakarta. Sebagai kelanjutan kongres itu Jong Java membubarkan diri dan bergabung dengan Indonesia Muda. Komisi Besar Indonesia Muda kemudian menyelenggarakan kongres untuk mendirikan tubuh fusi yang berjulukan Indonesia Muda di Gedung Habiprojo Surakarta yang diselenggarakan pada tanggal 28 Desember hingga 2 Januari 1931. Saat terbentuknya Indonesia Muda memiliki 25 cabang di seluruh Indonesia, empat di Sumatera, 21 di Sulawesi. Yong Islamieten Bond dan Pemuda Muslimin alasannya ialah suatu alasan tidak ikut bergabung dalam organisasi adonan itu.
Dengan berdirinya Indonesia Muda secara otomatis perkumpulan Jong Java, Jong Celebes, Perhimpunan Indonesia, dan Pemuda Sumatera membubarkan diri. Tampuk pimpinan Indonesia Muda kemudian diserahkan kepada Pedoman Besar Indonesia Muda. Tokoh-tokoh yang menandatangani deklarasi Indonesia Muda itu ialah Kuncara Purbopranoto, Muhammad Yamin, Jusupadi, Sjahrial, Assat, Suwadji Prawirohardjo, Adnan Gani, Tamzil, Sujadi, dan Pantouw.
Indonesia Muda bertujuan membangun dan mempertahankan keinsyafan antara anak bangsa yang bertanah air satu supaya tercapai Indonesia Raya. Untuk mewujudkan tujuan itu dikembangkan perilaku saling menghargai dan memelihara persatuan semua anak Indonesia, dengan mengadakan kursus-kursus untuk memberantas buta huruf, memajukan olah raga, dan lain sebaginya. Berdirinya Indonesia Muda itu menunjukkan ide kepada tokoh-tokoh perjaka lain untuk mendirikan usaha yang lebih luas. Perjuangan tidak saja menuntut hak-hak sosial, tetapi juga menuntut suatu kemerdekaan bagi Indonesia Merdeka. Di samping itu Volksraad yang sudah didirikan oleh pemerintah Belanda (1918) kemudian dipakai oleh perjaka Indonesia yang tergabung didalamnya untuk membela kepentingan rakyat Indonesia.
Diadakannya Kongres Pemuda II yang kemudian melahirkan Sumpah Pemuda tersebut nampaknya ikut semakin menyemangati usaha organisasi pergerakan perempuan di Indonesia. Se-ide dengan pelaksanaan Kongres Pemuda II itu kemudian organisasi-organisasi perempuan yang telah berkembang di banyak sekali kawasan di Indonsia itu mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928, di Pendopo Joyodipuro, Yogyakarta, yang dipimpin oleh Ny. R.A. Sukanto. Kongres itu diprakarsai oleh Ny. Sukoto, Nyi Hajar Dewantara, dan Nn. Suyatin. Kongres itu bertujuan untuk menjalin persatuan di antara perkumpulan wanita, dan memajukan wanita. Dalam Kongres Perempuan Indonesia I itu dihadiri oleh 30 organisasi wanita. Kongres Perempuan Indonesia I itu merupakan bab penting bagi Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia. Untuk mengenang sejarah kongres perempuan maka pada tanggal 22 Dsember diperingati sebagai Hari Ibu di Indonesia. Pada perkembangan selanjutnya organisasi itu berubah nama sebagai Perserikatan Perhimpunan Istri Indonesia (PPPI). Perjuangan organisasi itu semakin berpengaruh dengan didirikannya Isteri Sedar dan Istri Indonesia. Isteri Sedar didirikan oleh Suwarni Pringgodigdo (1930), di Bandung. Organisasi itu bertujuan meningkatkan kesadaran perempuan Indonesia untuk memperkokoh impian Indonesia Merdeka. Organisasi ini sejalan dengan PNI, yang menolak poligami. Selanjutnya Istri Indonesia didirikan 1932. Organisasi itu didirikan menurut nasionalisme dan demokrasi. Tujuan Istri Indonesia ialah mencapai Indonesia Raya dan bersikap kooperatif terhadap pemerintah Belanda. tokoh-tokoh organisasi itu ialah Ny. Sunaryo Mangunpuspito dan Maria Ulfah Santoso. Kongres Perempuan I dan juga semakin meningkatnya gerakan organisasi perempuan telah ikut mendorong bagi kemajuan usaha bangsa Indonesia untuk mencapai kejayaan dan kemerdekaan. Sementara itu gerakan organisasi perjaka terus mengalami kemajuan. Pada 31 Desember 1931, diselenggarakan rapat besar Indonesia Muda. Saat itu Indonesia Muda resmi didirikan diiringi dengan upacara. Selanjutnya setiap cabang secara khusus ditanya kesiapannya untuk mendirikan Indonesia Muda. Tepat pukul 12.00 WIB semua hadirin diminta untuk berdiri dan piagam pendirian Indonesia Muda dibacakan. Pada dikala itu Panji-panji Indonesia Muda berkibar untuk selama-lamanya diiringi suara gamelan, sehabis gamelan berhenti semua perjaka yang hadir menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Pada mulanya perkumpulan Indonesia Muda tidak diperbolehkan terlibat dalam politik. Tekanan pemerintah terhadap larangan berpolitik mendorong anggota Indonesia Muda untuk mendirikan perkumpulan lain. Pada 1931, orang-orang PNI Baru di Malang mendirikan Suluh Pemuda Indonesia yang bercorak Marhaen. Partindo di Yogyakarta mendirikan Persatuan Pemuda Rakyat Indonesia (Perpri). Dari perkumpulan Islam misalnya, berdiri JIB bab keputrian, Pemuda Muslim Indonesia, Pemuda Muhammadiyah, Pemuda Perserikatan Ulama, Pemuda Persatuan Islam, dan Anshor NU. Dari perjaka Katolik misalnya, lahir Persatuan Pergerakan Pemuda Kristen, sementara perjaka Katholik melahirkan Mudo Katholik dari partai politik Suluh Pemuda Indonesia, barisan Pemuda Gerindo, Jajasan Obor Pasundan. Perkumpulan lainnya seperti, Taman Siswa, Persatuan Pemuda Teknik, Persatuan Putri Cirebon, Kebangunan Sulawesi, dan Minangkabau.
Dalam gerakannya para perjaka itu melaksanakan kepanduan. Kepanduan itu berasal dari kepanduan Jong Java, Pemuda Sumatera, dan organisasi perjaka lainnya. Kepanduan itu mengambil azas dari kepanduan dunia, yang berisi perihal menunjukkan pelajaran dalam bentuk segala permainan dan kecakapan pandu, untuk meningkatkan kesehatan para pemuda. Disamping itu juga berdiri kepanduan menurut kebangsaan dan keagamaan, menyerupai Natipy, Hizbul Wathon, Siap, dan Kepanduan Rakyat Indonesia.[ki]
Kamis, 18 September 2014
By syahna aksesoris / Posted on 21.14 / Categories: sejarah
Perang Pattimura Maluku dengan rempah-rempahnya memang bagaikan “mutiara dari timur”, yang senantiasa diburu oleh orang-orang Barat. Namun kekuasaan orangorang Barat telah merusak tata ekonomi dan pola perdagangan bebas yang telah usang berkembang di Nusantara. Pada masa pemerintahan Inggris di bawah Raffles keadaan Maluku relatif lebih hening alasannya yakni Inggris bersedia membayar hasil bumi rakyat Maluku. Kegiatan kerja rodi mulai dikurangi. Bahkan para pemuda
Maluku juga diberi kesempatan untuk bekerja pada dinas angkatan perang Inggris. Tetapi pada masa pernerintahan kolonial Hindia Belanda, keadaan kembali berubah. Kegiatan monopoli di Maluku kembali diperketat. Dengan demikian beban rakyat semakin berat. Sebab selain penyerahan wajib, masih juga harus dikenai kewajiban kerja paksa, penyerahan ikan asin, dendeng, dan kopi. Kalau ada penduduk yang melanggar akan ditindak tegas. Ditambah lagi terdengar desas desus bahwa para guru akan diberhentikan untuk penghematan, para cowok akan di kumpulkan untuk dijadikan tentara di luar Maluku, ditambah dengan perilaku angkuh Residen Saparua. Hal ini sangat mengecewakan rakyat Maluku.
Menanggapi kondisi yang demikian para tokoh dan cowok Maluku melaksanakan serangkaian pertemuan rahasia. Sebagai pola telah diadakan pertemuan belakang layar di Pulau Haruku, pulau yang dihuni orang-orang Islam. Selanjutnya pada tanggal 14 Mei 1817 di Pulau Saparua (pulau yang dihuni orang-orang Kristen) kembali diadakan pertemuan di sebuah daerah yang sering disebut dengan Hutan Kayuputih. Dalam banyak sekali pertemuan itu disimpulkan bahwa rakyat Maluku tidak ingin terus menderita di bawah keserakahan dan kekejaman Belanda. Oleh alasannya yakni itu, perlu mengadakan perlawanan untuk menentang kebijakan Belanda. Residen Saparua harus dibunuh. Sebagai pemimpin perlawanan dipercayakan kepada cowok yang berjulukan Thomas Matulessy yang lalu populer dengan gelarnya Pattimura. Thomas Matulessy pernah bekerja pada dinas angkatan perang Inggris.
Gerakan perlawanan dimulai dengan menghancurkan kapal-kapal Belanda di pelabuhan. Para pejuang Maluku lalu menuju Benteng Duurstede. Ternyata di benteng itu sudah berkumpul pasukan Belanda. Dengan demikian terjadilah pertempuran antara para pejuang Maluku melawan pasukan Belanda. Belanda waktu itu dipimpin oleh Residen van den Berg. Sementara dari para pejuang selain Pattimura juga tampil tokoh-tokoh menyerupai Christina Martha Tiahahu, Thomas Pattiwwail, dan Lucas Latumahina. Para pejuang Maluku dengan sekuat tenaga mengepung Benteng Duurstede, dan tidak begitu menghiraukan tembakan-tembakan meriam yang dimuntahkan oleh serdadu Belanda dari dalam benteng. Sementara senjata para pejuang Maluku masih sederhana menyerupai pedang dan keris. Dalam waktu yang hampir bersamaan para pejuang Maluku satu persatu sanggup memanjat dan masuk ke dalam benteng. Residen sanggup dibunuh dan Benteng Duurstede sanggup dikuasai oleh para pejuang Maluku. Jatuhnya Benteng Duurstede telah menambah semangat juang para cowok Maluku untuk terus berjuang melawan Belanda. Belanda lalu mendatangkan sumbangan dari Ambon. Datanglah 300 prajurit yang dipimpin oleh Mayor Beetjes. Pasukan ini kawal oleh dua kapal perang yakni Kapal Nassau dan Evertsen. Namun sumbangan ini sanggup digagalkan oleh pasukan Pattimura, bahkan Mayor Beetjes terbunuh. Kembali kemenangan ini semakin menggelorakan usaha para pejuang di banyak sekali daerah menyerupai di Seram, Hitu, Haruku, dan Larike. Selanjutnya Pattimura memusatkan perhatian untuk menyerang Benteng Zeelandia di Pulau Haruku. Melihat gelagat Pattimura itu maka pasukan Belanda di benteng ini diperkuat di bawah komandannya Groot. Patroli juga terus diperketat. Oleh alasannya yakni itu, Pattimura gagal menembus Benteng Zeelandia.
Upaya negosiasi mulai ditawarkan, tetapi tidak ada kesepakatan. Akhirnya Belanda mengerahkan semua kekuatannya termasuk sumbangan dari Batavia untuk merebut kembali Benteng Duurstede. Agustus 1817 Saparua diblokade, Benteng Duurstede dikepung disertai tembakan meriam yang bertubi-tubi. Satu persatu perlawanan di luar benteng sanggup dipatahkan. Daerah di kepulauan itu jatuh kembali ke tangan Belanda. Dalam kondisi yang demikian itu Pattimura memerintahkan pasukannya meloloskan diri dan meninggalkan daerah pertahanannya. Dengan demikian Benteng Duurstede berhasil dikuasai Belanda kembali. Pattimura dan pengikutnya terus melawan dengan gerilya. Tetapi pada bulan November beberapa pembantu Pattimura tertangkap menyerupai Kapitan Paulus Tiahahu (ayah Christina Martha Tiahahu) yang lalu dijatuhi sanksi mati. Mendengar tragedi ini Christina Martha Tahahu murka dan segera pergi ke hutan untuk bergerilya.
Belanda belum puas sebelum sanggup menangkap Pattimura. Bahkan Belanda mengumumkan kepada siapa saja yang sanggup menangkap Pattimura akan diberi hadiah 1.000 gulden. Setelah enam bulan memimpin perlawanan, jadinya Pattimura tertangkap. Tepat pada tanggal 16 Desember 1817 Pattimura dieksekusi gantung di alun-alun Kota Ambon. Christina Martha Tiahahu yang berusaha melanjutkan perang gerilya jadinya juga tertangkap. Ia tidak dieksekusi mati tetapi bersama 39 orang lainnya dibuang ke Jawa sebagai pekerja rodi. Di dalam kapal Christina Martha Tiahahu mogok tidak mau makan dan tidak mau buka mulut. Ia jatuh sakit dan jadinya meninggal pada tanggal 2 Januari 1818. Jenazahnya dibuang ke bahari antara Pulau Buru dan Pulau Tiga. Berakhirlah perlawanan Pattimura.[ki]
Senin, 01 September 2014
Sejarah VOC Vereenigde Oostindische Compagnie – Sahabat Sekalian pada kesempatan kali ini akan membuatkan artikel mengenai Sejarah VOC atau yang merupakan organsiasi dagang Belanda yang pernah menjajah Nusantara. .Setelah Cornellis de Houtman hingga di Banten tahun 1596 maka pada tahun 1598 Compagnie Van Verre di Belanda memberangkatkan 8 kapal di bawah pimpinan Van Nock dan Warwijk yang membutuhkan waktu 7 bulan hingga di Banten keberhasilan pelayaran tersebut mendorong harapan banyak sekali perusahaan di Belanda untuk memberangkatkan kapalnya ke Indonesia ada 14 perusahaan yang telah memberangkatkan 62 kapal. Sementara itu Portugis berusaha keras untuk menghancurkan mereka.
Atas usul Johan Van Oldenbarneveld dibentuklah sebuah perusahaan yang disebut Vereemigde Oost Indische Compagnie (VOC) pada tanggal 20 Maret 1682. Tujuan pembentukan VOC tidak lain ialah menghindarkan persaingan antar pengusaha Belanda (intern) serta bisa menghadapi persaingan dengan bangsa lain terutama Spanyol dan Portugis sebagai musuhnya (ekstern).
Hak Oktroi VOC
Kepemimpinan VOC dipegang oleh dewan beranggotakan 17 orang yang berkedudukan di Amsterdam. Oleh Pemerintahan Belanda, VOC diberi oktroi (hak-hak istimewa) sebagai berikut :
- Dianggap sebagai wakil pemerintah Belanda di Asia
- Monopoli perdagangan
- Mencetak dang mengedarkan uang sendiri
- Mengadakan perjanjian
- Menaklukkan perang dengan negara lain
- Menjalankan kekuasaan kehakiman
- Pemungutan pajak
- Memiliki angkatan perang sendiri
- Mengadakan pemerintahan sendiri.
- Pieter Both, merupakan Gubernur Jenderal VOC pertama yang memerintah tahun 1610-1619 di Ambon.
- Jan Pieterzoon Coen, merupakan Gubernur Jenderal kedua yang memindahkan sentra VOC dari Ambon ke Jayakarta (Batavia). Karena letaknya strategis di tengah-tengah Nusantara memudahkan pelayaran ke Belanda.
Setelah berpusat di Batavia, VOC melaksanakan ekspansi kekuasaan dengan pendekatan serta campur tangan terhadap kerajaan-kerajaan di Indonesia antara lain Mataram, Banten, Banjar, Sumatra, Gowa (Makassar) serta Maluku. Akibat hak monopoli yang dimilikinya. VOC memaksakan kehendaknya sehingga menjadikan permusuhan dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara. Untuk menghadapi perlawanan bangsa Indonesia VOC meningkatkan kekuatan militernya serta membangun benteng-benteng menyerupai di Ambon, Makasar, Jayakarta dan lain-lain. Bagaimana cara Belanda memperoleh monopoli perdagangan di Indonesia? Cara yang dilakukan VOC adalah:
- Melakukan pelayaran hongi untuk memberantas penyelundupan. Tindakan yang dilakukan VOC ialah merampas setiap kapal penduduk yang menjual pribadi rempahrempah kepada pedagang abnormal menyerupai Inggris, Perancis dan Denmark. Hal ini banyak dijumpai di pelabuhan bebas Makassar.
- Melakukan Ekstirpasi yaitu penebangan tanaman, milik rakyat. Tujuannya ialah mepertahankan semoga harga rempah-rempah tidak merosot kalau hasil panen berlebihan (over produksi).
- Perjanjian dengan raja-raja setempat terutama yang kalah perang wajib menyerahkan hasil bumi yang diharapkan VOC dengan harga yang ditetapkan VOC. Penyerahan wajib disebut Verplichte Leverantien
- Rakyat wajib menyerahkan hasil bumi sebagai pajak, yang disebut dengan istilah Contingenten
Seiring dengan perubahan undangan dan kebutuhan di Eropa dari rempahrempah ke tumbuhan industri yaitu kopi, gula dan teh maka pada periode 18 VOC mengalihkan perhatiannya untuk menanam ke tiga jenis barang komoditi tersebut. Misalnya tebu di Muara Angke (sekitar Batavia), kopi dan teh tempat Priangan.
Dalam melaksanakan pemerintahan VOC banyak mempergunakan tenaga Bupati. Sedangkan bangsa Cina dipercaya untuk pemungutan pajak dengan cara menyewakan desa untuk beberapa tahun lamanya.
Pada pertengahan periode ke 18 VOC mengalamii kemunduran lantaran beberapa alasannya ialah sehingga dibubarkan.
- Banyak pegawai VOC yang curang dan korupsi
- Banyak pengeluaran untuk biaya peperangan pola perang melawan Sultan Hasanuddin dari Gowa.
- Banyaknya honor yang harus dibayar lantaran kekuasaan yang luas membutuhkan pegawai yang banyak
- Pembayaran Devident (keuntungan) bagi pemegang saham turut memberatkan sehabis pemasukan VOC kekurangan
- Bertambahnya tentangan dagang di Asia terutama Inggris dan Perancis.
- Perubahan politik di Belanda dengan berdirinya Republik Bataaf 1795 yang demokratis dan liberal menganjurkan perdagangan bebas.
Berdasarkan alasan di atas VOC dibubarkan pada tanggal 31 Desember 1799 dengan hutang 136,7 juta gulden dan kekayaan yang ditinggalkan berupa kantor dagang, gudang, benteng, kapal serta tempat kekuasaan di Indonesia.
Demikianlah Artikel Amir Al-maruzy yang membahas mengenai Sejarah VOC Vereenigde Oostindische Compagnie , semoga artikel ini sanggup memebrikan gosip yang bermanfaat bai kita semua.[ki].
Jumat, 27 Desember 2013
Pakacaping - Atau Biasa Juga Disebut Kecapi Bugis Makassar ialah Musik instrumental tradisional Sulawesi Selatan yang diciptakan oleh seorang pelaut Bugis Makassar
Pakacaping ialah salah satu musik instrument tradisional tempat Sulawesi Selatan yang dikenal dalam etnis Makassar, Bugis, dan Mandar. Alat musik ini mirip dengan hasapi (Tapanuli), atau kecapi untuk etnis Sunda dan Jawa.Secara etimologis, Pakacaping diartikan sebagai pemain kecapi yang berasal dari dua suku kata yaitu pa berarti ‘pemain’ dan kata Kacaping berarti ‘instrumen kecapi’. Alat musik ini terbuat dari kayu berdawai dua dan berbentuk ibarat perahu.
Menurut sejarahnya kecapi diciptakan oleh seorang pelaut Bugis Makassar yang telah berhari-hari berlayar di bahari lepas meninggalkan gadis pujaan hatinya di darat, tiba-tiba angin puting-beliung tiba dan tali bahtera yang terikat dilayar berbunyi diterpa angin kencang. Bunyi yang amat indah menimbulkan kerinduan mendalam pada kekasih yang ditinggal. Begitu angin puting-beliung berlalu, sang pelaut mengambil sebagian tali layarnya kemudian diikatkan pada dayung
perahu, kemudian dipetik dengan iringan lagu. Setelah kembali ke darat, dibuatlah sebuah alat suara yang berbentuk bahtera dua tali yang dipetik dan dibuatkan syair-syair (Kelong) berpantun dengan ketentuan 8.8.5.8.
Awalnya Pakacaping merupakan permainan untuk menghibur diri sendiri di waktu senggang. Pemain kecapi menikmati kobbi’-kobbi’na (petikan-petikannya sendiri) tanpa ada kebutuhan pendengar. Namun dalam perkembangannya Pakacaping menjadi seni pertunjukan dalam menyebarkan konteks adab istiadat assua’-sara’ (keramaian).
Bagi masyarakat Gowa Sulawesi-Selatan misalnya, Pakacaping ialah bab yang tak terpisahkan dari tradisi adab a'gau-gau. Hadirnya seni pertunjukan dalam setiap upacara adab merupakan bab dari semangat untuk menjamu dan menghormati setiap orang yang tiba menghadiri pesta upacara yang dilaksanakan. hingga ketika ini masih sanggup disaksikan lewat acara-acara adat-istiadat, mirip pesta adab upacara perkawinan, khitanan, sunatan, hari-hari besar kerajaan, hari-hari besar kenegaraan,dalam rangka ekspo budaya, dan bahkan dalam program pertunjukan yang dikelola khusus secara konvensional.
Dalam memainkan kacaping, seorang pemain biasanya duduk bersila, memangku alat (kecapi) menghadap penonton dengan memakai kostum berupa ikat kepala (patonro), baju balla dada, celana baroci dan sarung yang diikatkan dipinggang, memetik kecapi, lagu mana yang akan di mainkan. Dari teknik memetik, teknik improvisasi dan teknik penampilan apalagi vocal yang indah, akan memancing penonton dan pendengar untuk turut bereaksi atau membalas nyanyian dari Pakacaping. Biasanya, makin larut malam, semakin seru alasannya ialah syair-syair yang disampaikan semakin hangat.
Kecapi Kuno
Kecapi kuno ini ditemukan oleh nenek moyang bangsa Tionghoa pada zaman Dinasti Zhou lebih dari 3 ribu tahun yang lalu. Pada zaman dahulu disebut sebagai “Qin” atau “Yao Qin” dan merupakan instrumen putar kuno Tiongkok. Orang zaman dahulu sebelum main kecapi harus mandi dan mengganti baju, kemudian gres main kecapi dengan menaruh kecapi di atas pundak atau meja. Tangan kiri putar senar, ajudan tekan senar, dan tuntutan ketepatan suara musik sangat ketat.
Hasapi
Hasapi, atau gitar Batak mempunyai kemiripan dengan Kacaping Bugis Makassar, mempunyai dua dawai. Hasapi Batak mempunyai keunikan tersendiri, dalam tangga nada, jelas, ada dampak Barat. Misalnya, penyetelan dua dawainya itu. Tapi dalam struktur terutama dalam pengulangan melodi dan ritme, dampak Barat itu hilang. Hasapi di batak dibedakan atas dua yaitu hasapi ende dan hasapi doal (alat petik dua senar)
Bagi masyarakat Gowa Sulawesi-Selatan misalnya, Pakacaping ialah bab yang tak terpisahkan dari tradisi adab a’gau-gau. Hadirnya seni pertunjukan dalam setiap upacara adab merupakan bab dari semangat untuk menjamu dan menghormati setiap orang yang tiba menghadiri pesta upacara yang dilaksanakan. hingga ketika ini masih sanggup disaksikan lewat acara-acara adat-istiadat, mirip pesta adab upacara perkawinan, khitanan, sunatan, hari-hari besar kerajaan, hari-hari besar kenegaraan,dalam rangka ekspo budaya, dan bahkan dalam program pertunjukan yang dikelola khusus secara konvensional.
Dalam memainkan kacaping, seorang pemain biasanya duduk bersila, memangku alat (kecapi) menghadap penonton dengan memakai kostum berupa ikat kepala (patonro), baju balla dada, celana baroci dan sarung yang diikatkan dipinggang, memetik kecapi, lagu mana yang akan di mainkan. Dari teknik memetik, teknik improvisasi dan teknik penampilan apalagi vocal yang indah, akan memancing penonton dan pendengar untuk turut bereaksi atau membalas nyanyian dari Pakacaping. Biasanya, makin larut malam, semakin seru alasannya ialah syair-syair yang disampaikan semakin hangat.[ki]
Sabtu, 30 November 2013
Apa Yang Dimaksud Khulafaur Rasyidin – Alhamdulillah pada kesempatan ini, akan Share perihal Apa yang dimaksud Khulafaur Rasyidin. Nabi Muhammad SAW wafat pada tahun 632 Masehi. Sepeninggal beliau, pengaturan masyarakat dan penyebaran Islam menjadi tanggung jawab para Khalifah. Empat Khalifah pertama disebut Khulafaur Rasyidin. Mereka ialah Abu bakar As Syidik, Umar Bin Khattab, Usman Bin Affan dan Ali Bin Abu Thalib. Kepemimpinan nabi Muhammad SAW yang demokratis diteruskan oleh para Khalifah.
Dibawah pimpinan keempat Khalifah, masyarakat Muslim mulai memperluas pengaruhnya. Dibawah kepemimpinan Abu bakar Bin Khattab, efek Islam menyebar ke seluruh Jazirah Arab dan mulai memasuki Palestina. Dibawah kepemimpinan Umar Bin khattab, efek islam mulai memasuki Syria; Mesopotamia; Mesir dan mulai masuk ke Persia. Untuk menangani wilayah yang semakin luas. Umar menata manajemen pemerintahan, antara lain dengan membentuk propinsi-propinsi dan forum pengadilan. Di bawah kepemimpinan Usman Bin Affan, efek Islam menyebar keseluruh Persia, Siprus, Rhodes, Transoxania dan Tabaristan. Kemudian untuk beberapa usang ekspansi efek berhenti.
Pada masa pemerintahan Usman Bin Affan, untuk pertama kalinya terjadi perpecahan dalam masyarakat Muslim. Konflik tersebut disebabkan oleh ketidaktegasannya sebagai pemimpin dan kecenderungan Nepotisme. Meskipun demikian kepemimpinannya juga ditandai oleh sejumlah pembangunan di bidang ekonomi dan keagamaan.
Khalifah berikutnya, yakni Sepupu sekaligus menantu nabi Muhammad SAW. Pada masa kepemimpinan singa padang pasir ini, pergolakan lebih rumit terjadi. Pemberontakan antara lain muncul dari keluarga Usman Bin Affan dan Gubernur Damsyik. Upaya memadamkan pemberontakan ternyata tidak berhasil memulihkan kesatuan di lalangan Muslim. Ummat Islam bahkan terpecah menjadi Kaum Muawiyah, Syiah dan al-Khawarij.
Berakhirnya kepemimpinan Ali Bin Abu Thalib menandai selesai masa Khulafaur rasyidin. Pada tahun 661 Masehi. Kepepmimpinan beralih kepada kaum Muawiyah atau libih familiar dengan sebutan Bani Umayyah.
Demikianlah artikel sederhana perihal apa yang dimaksud Khulafaur Rasyidin, biar memberi wawasan kesejarahan bagi kita semua. [ki ]
Senin, 18 November 2013
By syahna aksesoris / Posted on 01.30 / Categories: sejarah
Zaman Logam di Indonesia – Zaman logam terdiri dari tiga zaman yaitu zaman perunggu, tembaga, dan besi. Zaman logam merupakan masa di mana kehidupan semakin lebih maju. Pada masa ini masyarakat sudah mengenal teknik-teknik pengolahan logam. Sejalan dengan kemajuan-kemajuan yang dicapai insan dalam meningkatkan taraf penghidupannya maka tata susunan masyarakat menjadi semakin kompleks. Pembagian kerja semakin ketat dan membutuhkan ketrampilan-ketrampilan tertentu. Oleh sebab itu, muncul kelompok-kelompok masyarakat yang terampil (undagi) menurut bidang masing-masing menyerupai andal menciptakan rumah, andal gerabah, andal logam, dan sebagainya. Pada zaman pembagian ini masyarakat yang hidup dari bercocok tanam mengalami tingkat kemajuan. Jika sebelumnya hanya dilakukan secara sistem ladang, kini memakai sistem persawahan.
Ciri-ciri Zaman LogamKehidupan perdagangan juga berkembang pada masa ini. Perdagangan sudah dilakukan antar pulau di Indonesia dan antara kepulauan Indonesia dengan daerah Asia Tenggara dengan sistem barter. Barang-barang yang dipertukarkan ialah nekara perunggu, moko, manik-manik, rempah-rempah, jenis-jenis kayu, dan timah.
Yang sangat menonjol pada masa perundagian ini ialah kepercayaan. Penguburan orang yang meninggal dilaksanakan dengan dua cara yaitu secara eksklusif dan tidak langsung. Penguburan langsung, mayit eksklusif dikuburkan di tanah atau ditempatkan dalam sebuah wadah di dalam tanah. Penguburan tidak eksklusif dilakukan dengan menguburkan mayit terlebih dahulu dalam tanah atau peti kayu berbentuk perahu. Kuburan ini sifatnya sementara. Setelah mayatnya menjadi rangka diambil dan dibersihkan, gres dikuburkan lagi dalam tempayan atau kubur batu.
Kemajuan dalam bidang teknik pengolahan logam sanggup dilihat dari peninggalan yang ditinggalkan. Barang-barang logam itu antara lain nekara, kapak corong, arca perunggu, candrasa, gelang kaki, anting-anting, kalung, dan cincin.
Pada zaman logam, insan sudah sanggup menciptakan peralatan dari logam yang ternyata lebih berpengaruh dan lebih muda dikerjakan daripada batu. Bahan logam harus dilebur dulu sebelum digunakan sebagai materi pembuatan peralatan manusia. Oleh sebab itu pada zaman logam, kebudayaan insan sudah lebih tinggi daripada pada zaman batu. zaman ini terbagi menjadi 2 zaman yaitu:
Zaman Perunggu
Hasil kebudayaan perunggu yang ditemukan di Indonesia adalah Kapak Corong (Kapak Perunggu), banyak ditemukan di Sumatera Selatan, Jawa, Balio, Sulawesi dan Kepulauan Selayar dan Irian. Kegunaannya sebagi alat perkakas. Nekara perunggu(Moko), bebrbentuk menyerupai dandang. Banyak ditemukan di daerah : Sumatera, Jawa Bali, Sumbawa, Roti, Leti, Selayar dan Kep. Kei. Kegunaan untuk program keagamaan dan maskawin. Bejana Perunggu, bentuknya menyerupai gitar Spanyol tetapi tanpa tangkai. Hanya ditemukan di Madura dan Sumatera; Arca-arca Perunggu, banyak ditemukan di Bangkinang(Riau), Lumajang (Jatim) dan Bogor (Jabar). Perhiasan : gelang, anting-anting, kalung dan cincin. Kebudayaan Perunggu sering disebut juga sebagi kebudayaan Dongson-Tonkin Cina sebab disanalah Pusat Kebudayaan Perunggu.
Zaman Besi
Pada masa ini insan telah sanggup melebur besi untuk dituang menjadi alat-alat yang dibutuhkan, pada masa ini di Indonesia tidak banyak ditemukan alat-alat yang terbuat dari besi.
Alat-alat yang ditemukan yaitu Mata kapak, yang dikaitkan pada tangkai dari kayu, berfungsi untuk membelah kayu. Mata Sabit, digunakan untuk menyabit tumbuh-tumbuhan; Mata pisau; Mata pedang; Cangkul, dll.
Jenis-jenis benda tersebut banyak ditemukan di Gunung Kidul (Yogyakarta), Bogor, Besuki dan Punung (Jawa Timur).
Senin, 04 November 2013
By syahna aksesoris / Posted on 00.01 / Categories: sejarah
Masa Demokrasi Liberal hingga Demokrasi Terpimpin Pelaksanaan demokrasi liberal sesuai dengan konstitusi yang berlaku ketika itu, yakni Undang Undang Dasar Sementara 1950. Kondisi ini bahkan sudah dirintis semenjak dikeluarkannya maklumat pemerintah tanggal 16 Oktober 1945 dan maklumat tanggal 3 November 1945, tetapi kemudian terbukti bahwa demokrasi liberal atau parlementer yang menggandakan sistem Eropa Barat kurang sesuai diterapkan di Indonesia. Tahun 1950 hingga 1959 merupakan masa berkiprahnya parta-partai politik. Dua partai terkuat pada masa itu (PNI & Masyumi) silih berganti memimpin kabinet. Sering bergantinya kabinet sering menyebabkan ketidakstabilan dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan keamanan. Ciri-ciri demokrasi liberal ialah sebagai berikut :
- Presiden dan Wapres tidak sanggup diganggu gugat
- Menteri bertanggung jawab atas kebijakan pemerintah
- Presiden sanggup dan berhak berhak membubarkan DPR
- Perdana Menteri diangkat oleh Presiden
Kabinet Natsir
Masa pemerintahan Kabinet Natsir (6 September 1950 - 20 Maret 1951). Merupakan kabinet koalisi yang dipimpin oleh partai Masyumi.
Program : Menggiatkan usaha keamanan dan ketentraman; Mencapai konsolidasi dan menyempurnakan susunan pemerintahan; Menyempurnakan organisasi Angkatan Perang; Mengembangkan dan memperkuat ekonomi rakyat; Memperjuangkan penyelesaian perkara Irian Barat.
Hasil : Berlangsung negosiasi antara Indonesia-Belanda untuk pertama kalinya mengenai perkara Irian Barat.
Masalah yang dihadapi: Upaya memperjuangkan perkara Irian Barat dengan Belanda mengalami jalan buntu (kegagalan); Timbul perkara keamanan dalam negeri yaitu terjadi pemberontakan hampir di seluruh wilayah Indonesia, menyerupai Gerakan DI/TII, Gerakan Andi Azis, Gerakan APRA, Gerakan RMS.
Berakhirnya kekuasaan kabinet: Adanya mosi tidak percaya dari PNI menyangkut pencabutan Peraturan Pemerintah mengenai DPRD dan DPRDS. PNI menganggap peraturan pemerintah No. 39 th 1950 mengenai DPRD terlalu menguntungkan Masyumi. Mosi tersebut disetujui dewan legislatif sehingga Natsir harus mengembalikan mandatnya kepada Presiden.
Kabinet Sukiman
Masa Pemerintahan Kabinet Sukiman (27 April 1951 - 3 April 1952). Merupakan kabinet koalisi antara Masyumi dan PNI.
Program : Menjamin keamanan dan ketentraman; Mengusahakan kemakmuran rakyat; Mempercepat persiapan pemilihan umum; Menjalankan politik luar negeri secara bebas aktif serta memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah RI secepatnya.
Hasil: Tidak terlalu berarti lantaran programnya melanjtkan aktivitas Natsir hanya saja terjadi perubahan skala prioritas dalam pelaksanaan programnya, menyerupai awalnya aktivitas Menggiatkan usaha keamanan dan ketentraman selanjutnya diprioritaskan untuk menjamin keamanan dan ketentraman
Masalah yang dihadapi: telah melanggar politik luar negara Indonesia yang bebas aktif lantaran lebih condong ke blok barat bahkan dinilai telah memasukkan Indonesia ke dalam blok barat; Adanya krisis moral yang ditandai dengan munculnya korupsi; Masalah Irian barat belum juga teratasi; Hubungan Sukiman dengan militer kurang baik
Berakhirnya kekuasaan kabinet: Muncul kontradiksi dari Masyumi dan PNI atas tindakan Sukiman sehingga mereka menarik dukungannya pada kabinet tersebut. dewan perwakilan rakyat balasannya menggugat Sukiman dan terpaksa Sukiman harus mengembalikan mandatnya kepada presiden.
Kabinet Wilopo
Masa Pemerintahan Kabinet Wilopo (3 April 1952 – 3 Juni 1953)
Program : Program dalam negeri : Menyelenggarakan pemilihan umum (konstituante, DPR, dan DPRD), meningkatkan kemakmuran rakyat, meningkatkan pendidikan rakyat, dan pemulihan keamanan. Program luar negeri : Penyelesaian perkara hubungan Indonesia-Belanda, Pengembalian Irian Barat ke pangkuan Indonesia, serta menjalankan politik luar negeri yang bebas-aktif.
Masalah yang dihadapi: Adanya kondisi krisis ekonomi; Terjadi defisit kas negara; Munculnya gerakan sparatisme t; Terjadi insiden 17 Oktober 1952. Merupakan merupakan kontradiksi antara Tentara Nasional Indonesia dan sipil. Inti insiden ini ialah gerakan sejumlah perwira angkatan darat guna menekan Sukarno supaya membubarkan kabinet. Munculnya insiden Tanjung Morawa,Inti insiden Tanjung Morawa ialah insiden bentrokan antara pegawanegeri kepolisian dengan para petani liar mengenai perkara tanah perkebunan di Sumatera Timur (Deli).
Berakhirnya kekuasaan kabinet : Akibat insiden Tanjung Morawa muncullah mosi tidak percaya dari Serikat Tani Indonesia terhadap kabinet Wilopo. Sehingga Wilopo harus mengembalikan mandatnya pada presiden.
Kabinet Ali Sastroamijoyo
Masa Pemerintahan Kabinet Ali Sastroamijoyo (31 Juli 1953 – 12 Agustus 1955)
Program: Meningkatkan keamanan dan kemakmuran serta segera menyelenggarakan Pemilu; Pembebasan Irian Barat secepatnya; Pelaksanaan politik bebas-aktif dan peninjauan kembali persetujuan KMB dan Penyelesaian Pertikaian politik
Hasil: Persiapan Pemilihan Umum 1955; Menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika tahun 1955.
Kendala/ Masalah yang dihadapi: Menghadapi perkara keamanan di tempat yang belum juga sanggup terselesaikan, menyerupai DI/TII di Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Aceh. terjadi insiden 27 Juni 1955 suatu insiden yang mengatakan adanya kemelut dalam badan TNI-AD. Masalah Tentara Nasional Indonesia –AD yang merupakan kelanjutan dari Peristiwa 17 Oktober 1952. Keadaan ekonomi yang semakin memburuk. Memudarnya kepercayaan rakyat terhadap pemerintah. Munculnya konflik antara PNI dan NU .
Berakhirnya kekuasaan kabinet; Nu menarik derma dan menterinya dari kabinet sehingga keretakan dalam kabinetnya inilah yang memaksa Ali harus mengembalikan mandatnya pada presiden.
Kabinet Burhanuddin Harahap
Masa Pemerintahan Kabinet Burhanuddin Harahap (12 Agustus 1955 – 3 Maret 1956)
Program: Mengembalikan kewibawaan pemerintah. Melaksanakan pemilihan umum 1955. Masalah desentralisasi, inflasi, pemberantasan korupsi. Perjuangan pengembalian Irian Barat. Politik Kerjasama Asia-Afrika menurut politik luar negeri bebas aktif.
Hasil: Penyelenggaraan pemilu pertama yang demokratis pada 29 September 1955 (memilih anggota DPR) dan 15 Desember 1955 (memilih konstituante). Perjuangan Diplomasi Menyelesaikan perkara Irian Barat dengan pembubaran Uni Indonesia-Belanda. Pemberantasan korupsi; Terbinanya hubungan antara Angkatan Darat dengan Kabinet Burhanuddin. Menyelesaikan perkara insiden 27 Juni 1955.
Kendala/ Masalah yang dihadapi : Banyaknya mutasi dalam lingkungan pemerintahan dianggap menyebabkan ketidaktenangan.
Berakhirnya kekuasaan kabinet: Dengan berakhirnya pemilu maka kiprah kabinet Burhanuddin dianggap selesai. Pemilu tidak menghasilkan derma yang cukup terhadap kabinet sehingga kabinetpun jatuh. Akan dibuat kabinet gres yang harus bertanggungjawab pada dewan legislatif yang gres pula.
Kabinet Ali sastroamijoyo II
Masa pemerintahan Kabinet Ali Sastroamijoyo II (20 Maret 1956 – 4 Maret 1957)
Program: Program kabinet ini disebut Rencana Pembangunan Lima Tahunyang memuat aktivitas jangka panjang, sebagai berikut. Perjuangan pengembalian Irian Barat; Pembentukan daerah-daerah otonomi; Mengusahakan perbaikan nasib kaum buruh dan pegawai; Menyehatkan perimbangan keuangan negara; Mewujudkan perubahan ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional.
Selain itu aktivitas pokoknya adalah: Pembatalan KMB, pemulihan keamanan dan ketertiban. Melaksanakan keputusan KAA.
Hasil: Mendapat derma penuh dari presiden dan dianggap sebagai titik tolak dari periode planning and investment, hasilnya ialah Pembatalan seluruh perjanjian KMB.
Kendala/ Masalah yang dihadapi: Berkobarnya semangat anti Cina di masyarakat. Muncul pergolakan/kekacauan di tempat (PRRI/Permesta). Memuncaknya krisis di aneka macam daerah. Pembatalan KMB oleh presiden, Timbulnya perpecahan antara Masyumi dan PNI.
Berakhirnya kekuasaan kabinet: Mundurnya sejumlah menteri dari Masyumi menciptakan kabinet hasil Pemilu I ini jatuh dan menyerahkan mandatnya pada presiden.
Kabinet Djuanda
Masa pemerintahan Kabinet Djuanda ( 9 April 1957- 5 Juli 1959)
Program : Programnya disebut Panca Karya sehingga sering juga disebut sebagaiKabinet Karya, programnya yaitu : Membentuk Dewan Nasional; Normalisasi keadaan Republik Indonesia; Melancarkan pelaksanaan Pembatalan KMB; Perjuangan pengembalian Irian Jaya; Mempergiat/mempercepat proses Pembangunan
Hasil : Mengatur kembali batas perairan nasional Indonesia melalui Deklarasi Djuanda; Terbentuknya Dewan Nasional . Sebagai titik tolak untuk menegakkan sistem demokrasi terpimpin; Mengadakan Musyawarah Nasional (Munas) untuk meredakan pergolakan di aneka macam daerah. Diadakan Musyawarah Nasional Pembangunan
Kendala/ Masalah yang dihadapi: Kegagalan Menghadapi pergolakan di tempat lantaran pergolakan di tempat semakin meningkat. Keadaan ekonomi dan keuangan yang semakin buruk. Terjadi insiden Cikini, yaitu insiden percobaan pembunuhan terhadap Presiden Sukarno di depan Perguruan Cikini
Berakhirnya kekuasaan kabinet: Berakhir ketika presiden Sukarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan mulailah babak gres sejarah RI yaitu Demokrasi Terpimpin.
Pemilhan Umum Tahun 1955
Pemilihan Umum 1955 dilaksanakan pada masa kabinet Burhanuddin Harahap . dilaksanakan pada tanggal 29 September 1955 (Pemilihan anggota parlemen) dan tanggal 15 Desember 1955 (Pemilihan konstituante). Pemihan umum 1955 menghasilkan 4 besar parpol pemenang pemilu (Masyumi, NU, PNI dan PKI).
Masa Demokrasi Terpimpin
Latar belakang munculnya demokrasi terpimpin: kegagalan konstituante dalam menyusun Undang-Undang Dasar gres serta ketegangan-ketegangan politik pasca pemilu 1955. Kemudian presiden Soekarno mengajukan konsepsi dengan nama demokrasi terpimpin. Dalam situasi yang tidak menentu balasannya presiden Soekarno mengeluarkan dekrit pada tanggal 5 Juli 1959 yang isinya:
- Pembubaran konstituante
- Berlakunya kembali Undang-Undang Dasar 1945
- Tidak berlakunya UUDS 1950
- Pembentukan MPRS dan DPAS
Didalam sistem demokrasi terpimpin, pada kenyataannya terjadi penyimpangan-penyimpangan konstitusi diantaranya; MPRS tunduk kepada Presiden; MPRS diangkat oleh Presiden; Pembubaran dewan perwakilan rakyat hasil pemilu dan pengangkatan DPR-GR; Politik luar negeri yang cenderung berpihak kepada blok timur; Pengangkatan soekarno sebagai presiden seumur hidup.
Pada tanggal 17 Agustus 1959 presiden berpidato yang berjudul inovasi kembali revolusi kita, dikenal dengan manifesto politik RI, manifesto Politik RI kemudian dijadikan GBHN. Inti dari manifesto politik ialah USDEK (UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi terpimpin dan Kepribadian Indonesia).
Pandangan politik luar negeri pada masa demokrasi terpimpin dilandasi oleh pandangan NEFO (New Emerging Forces) dan OLDEFO (Old Established Forces). Nefo merupakan kekuatan gres yang sedang muncul yaitu Negara-negara Progresif Revolusioner (Indonesia dan Negara-negara komunis) yang anti kolonialisme dan imperialism. Sedangkan Oldefo ialah kekuatan usang yang telah mapan yakni Negara-negara kapitalis yang neokolonialis dan imperialis (Nekolim). Pemerintah mengeluarkan konfrontasi terhadap pembentukan Negara Federasi Malaysia. Kareana Malaysia dianggap sebagai proyek neokolonialis Inggris yang membahayakan Indonesia dan Negara-negara Nefo. Dalam rangka itu dikeluarkan Dwi Komando rakyat (Dwikora) pada tanggal 3 Mei 1964 yang isinya sebagai berikut:
- Perhebat ketahanan Revolusi Indonesia.
- Bantu usaha rakyat Malaysia untuk membebaskan diri dari Nekolim Inggris.
Pelaksanaan Dwikora diawali dengan pembentukan Komando Siaga yang dipimpin Marsekal Omar Dani. Demokrasi terpimpin diakhiri dengan terjadinya insiden G30S/PKI dan digantikan oleh Orde Baru dibawah pimpinan Presiden Soeharto.[ki]
Sabtu, 02 November 2013
By syahna aksesoris / Posted on 22.28 / Categories: sejarah
Negara Negara Boneka Bentukan Belanda Belanda yang ingin kembali menguasai wilayah Indonesia terus melaksanakan tindakan-tindakan untuk merebut kembali wilayah-wilayah Indonesia. Wilayah Indonesia berhasil dipecah-pecah oleh Belanda.
Oleh alasannya ialah itu, bangsa Indonesia berjuang untuk merebut kembali wilayah-wilayahnya baik melalui usaha bersenjata maupun melalui jalan perundingan. Negara boneka ialah negara yang secara resmi merdeka dan diakui kedaulatannya namun secara de-facto berada di bawah kontrol negara lainnya. Negara boneka secara harfiah berarti negara di mana pemerintahannya sanggup disamakan menyerupai boneka yang dimainkan oleh pemerintah negara lainnya sebagai dalang.
Untuk menanamkan kembali kekuasaannya di Indonesia, salah satu cara yang dilakukan oleh Belanda ialah dengan membentuk negara-negara boneka. Tujuannya ialah untuk mengepung kedudukan pemerintahan Republik Indonesia atau mempersempit wilayah kekuasaan Republik Indonesia. Setiap negara bab atau negara boneka yang diciptakan Belanda tersebut dipimpin oleh seorang yang ditunjuk oleh Belanda. Melalui negara-negara boneka yang dibentuknya, Belanda membentuk Pemerintahan Federal dengan Van Mook sebagai kepala pemerintahannya. Dalam Konferensi Federal di Bandung pada tanggal 27 Mei 1948 lahirlah Badan Permusyawaratan Federal (BFO). Di dalam BFO terhimpun negara-negara boneka ciptaan Belanda.
NEGARA | TAHUN BERDIRI | WILAYAH | WALI NEGARA |
Negara Indonesia Timur | Desember 1946 | Sebelah timur selat Makassar dan Selat Bali | Cokorda Gde Raka Sukarwati |
Negara Sumatera Timur | Disetujui: 25 Des 1945 Diresmikan: 16 Peb 1947 | Medan dan sekitarnya | Dr. Mansyur |
Negara Sumatera Selatan | 30 Agustus 1948 | Palembang dan sekitarnya | Abdul Malik |
Negara Jawa Timur | 26 Nopember 1948 | Surabaya, Malang, dan daerah-daerah sebelah timur hingga Banyuangi | RT. Kusumonegoro |
Negara Pasundan | 26 Pebruari 1948 | Priangan, Jawa barat dan sekitarnya | RAA. Wiranatakusumah |
Negara Madura | 16 januari 1948 | Pulau Madura dan sekitarnya | Cakraningrat |
Daerah-daerah Otonom: -Kalimantan Barat | Oktober 1946 | Kalimantan barat | Sultan hamid II |
-Dayak Besar | Desember 1946 | Kalimantan Tengah | |
-Banjar | Januari 1948 | Banjar dan sekitarnya | |
-Kalimantan Tenggara | Maret 1947 | Pulau Laut, Pagetan, cantung dan Sampangan | |
-Jawa tengah | Maret 1949 | Banyumas. Pekalongan dan Semarang | |
-Bangka, Belitung dan Riau | Januari 1947 | Kepri dan Babel |
Demikianlah artikel mengenai Negara Negara Boneka Bentukan belanda, biar artikel ini sanggup memebrikan isu yang bermanfaat bagi kita semua.[ki]
Langganan:
Postingan (Atom)














